>

Jul 12, 2008

Info untuk Ibu hamil

Masa-masa hamil dan menyusui bagi kaum ibu atau calon ibu adalah masa-masa yang cukup menimbulkan dilema. Terlebih kalau sang calon ibu atau ibu menderita sakit. Kekhawatiran muncul tentang obat apa yang harus dikonsumsi, aman atau tidak untuk janin atau bayi, kalau tidak diobati kemungkinan akan menular pada bayi, dan lain sebagainya. Sementara kadang dokter atau apoteker, malah menyerahkan kembali pemilihan obat kepada pasien (ibu hamil atau menyusui). Dokter atau apoteker yang baik seharusnya telah menginformasikan dengan lengkap tentang keuntungan dan kerugian dari obat-obat yang dianjurkan, agar pasien bisa menentukan pilihan. Namun, tak jarang dokter atau apoteker hanya memberikan informasi seadanya (mungkin karena terlalu sibuk) sehingga yang ada malah membuat pasien bingung. Sungguh sangat dilema. Sementara gejala suatu penyakit sebaiknya segera diobati. Untuk ibu dan calon ibu, sebenarnya tidak ada obat yang dinyatakan aman 100% untuk dikonsumsi pada saat anda sakit. Hal ini tentu saja dikarenakan pada saat uji klinis suatu obat, sukarelawannya tidak pernah dari ibu hamil atau ibu menyusui. Sehingga data-data yang mendukung keamanan obat untuk dikonsumsi ibu hamil dan menyusui tidak secara ilmiah. Yang ada hanyalah data empirik, berdasarkan pengalaman saja. Tapi jangan khawatir, karena walaupun tidak ada obat yang 100% aman, ada obat-obat yang bisa anda gunakan untuk megobati gejala penyakit anda.Yang sebenarnya dikhawatirkan dari penggunaan suatu obat pada ibu hamil adalah kemungkinan obat dapat melewati sawar darah uri (fetoplacental barrier, yaitu semacam saringan darah yang terdapat pada ari-ari), yang dapat menimbulkan efek yang buruk bagi janin yang dikandung. Untuk ibu menyusui adalah kemungkinan obat terakumulasi pada ASI, sehingga dapat menimbulkan efek yang buruk bagi bayi yang disusui. Oleh karena itu, anda harus kritis dalam memilih obat sendiri ataupun atas resep obat yang dituliskan dokter untuk anda, selalulah mencari informasi tambahan mengenai obat yang anda konsumsi.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang pemberian obat selama masa kehamilan (MIMS, 1998) :
1. Tidak ada obat yang dianggap 100% aman bagi perkembangan janin.
2. Obat diberikan jika manfaatnya lebih besar daripada risikonya baik bagi ibu maupun janin. Jika mungkin, semua obat dihindari pada tiga bulan pertama kehamilan (trimester I), karena saat ini organ tubuh janin dalam masa pembentukan. Oleh karena itu, diharapkan bagi ibu hamil untuk selalu menjaga kesehatannya.
3. metabolisme obat pada saat hamil lebih lambat daripada saat tidak hamil, sehingga obat lebih lama berada dalam tubuh.
4. pengalaman penggunaan obat terhadap wanita hamil sangat terbatas, karena uji klinis obat saat hendak dipasarkan tidak boleh dilakukan pada wanita hamil.

Therapeutic Good Administration Australia (TGA, 2005) mengkategorikan obat menurut beberapa kelompok. Pengakategorian tersebut antara lain adalah sebagai berikut :

Kategori A : Obat-obat yang telah konsumsi oleh sejumlah besar wanita hamil dan wanita usia subur tanpa adanya bukti peningkatan frekuensi cacat lahir atau efek membahayakan baik langsung maupun tidak langsung pada janin.
Beberapa obat dalam kategori A adalah :
• Antasid (Obat Maag)
• Bisacodyl (Laksatif, obat pencahar)
• Digoksin (obat jantung)
• Preparat besi oral (dengan atau tanpa asam folat) (Obat anemia defisiensi besi)
• Parasetamol (Antinyeri)
• Dimenhidrinat, Difenhidramin, Metoklopramid (antimuntah)
• Betametason, Kortison Deksametason, Hidrokortison, Metilprednisolon, Prednisolon, Prednison Triamsinolon (Kortikosteroid)• Amoksisilin, Ampisilin (Antibiotik, gol Penisilin)
• Eritromisin (Antibiotik, gol Makrolida)
• Kodein, Dekstrometorpan (Antitusif)
• Ammonium Klorida, Bromheksin, Guaifenesin (Ekspektoran)
• Efedrin, salbutamol, terbutalin, teofilin derivatif (Obat Asma)
• Klorfeniramin, difenhidramin, difenilamin (Antihistamin)

Kategori B1 : Obat-obat yang telah dikonsumsi oleh sejumlah kecil wanita hamil atau wanita usia subur, tanpa peningkatan frekuensi cacat lahir atau efek membahayakan baik langsung maupun tidak langsung pada janin.Tidak ada bukti yang menunjukkan peningkatan frekuensi gangguan janin pada penelitian dengan binatang coba.
Beberapa obat dalam kategori B1 adalah :
• Simetidin, Famotidin, Ranitidin, Sukralfat (Obat Maag)
• Sefaklor, Sefotaksim, Seftriakson (Antibiotik, gol Sefalosforin)

Kategori B2: Obat-obat yang telah dikonsumsi oleh sejumlah kecil wanita hamil atau wanita usia subur, tanpa peningkatan frekuensi cacat lahir atau efek membahayakan baik langsung maupun tidak langsung pada janin.Penelitian pada binatang jumlahnya sangat sedikit, tetapi dari hasil penelitian yang ada, tidak menunjukkan peningkatan frekuensi gangguan janin binatang coba.
Beberapa obat dalam kategori B2 adalah :
• Domperidon, Hiosin, Hiosin Hidrobromida (Antimuntah)

Kategori B3 : Obat-obat yang telah dikonsumsi oleh sejumlah kecil wanita hamil atau wanita usia subur, tanpa peningkatan frekuensi cacat lahir atau efek membahayakan baik langsung maupun tidak langsung pada janin.
Penelitian pada hewan menunjukkan bukti peningkatan angka kejadian gangguan janin hewan coba. Pada manusia, gangguan janin akibat obat kategori ini masih belum dapat ditentukan.
Beberapa obat dalam kategori B3 adalah :
• Lansoprazol, Omeprazol, Pantoprazol (Obat Maag)
• Loperamid (Obat Diare)• Griseofulvin, Itrakonazol, Ketokonazol (Antijamur)
• Siprofloksasin, Ofloksasin (Antibiotik, gol Kuinolon)
• Asiklovir, Indinavir, Ritonavir, Valasiklivir (Antivirus)

Kategori C : Obat-obat, karena efek farmakologinya, menyebabkan atau dicurigai menyebabkan efek berbahaya pada janin atau bayi baru lahir tanpa menyebabkan cacat lahir. Efek tersebut mungkin reversibel (dapat kembali normal).
Beberapa obat dalam kategori C adalah :
• Amlodipin, Diltiazem, Nifedipin, Verapamil (Antihipertensi, gol Penghambat Kanal Kalsium)
• Dihidroergotamin, Ergotamin, Metisergid (Obat antimigrain)
• Aspirin (Antinyeri)
• Alprazolam, Bromazepam, Klordiazepoksid, Klobazam, Diazepam, Lorazepam, Midazolam (Obat anticemas)
• Klorpromazin (Antipsikosis)
• Droperidol, Haloperidol (Antipsikosis)
• Diklofenak, Ibuprofen, Ketoprofen, Ketorolac, Asam Mefenamat, Piroksikam (Antinyeri)
• Kotrimoksazol (Antibiotik, gol Sulfonamid)

Kategori D : Obat-obat yang menyebabkan, dicurigai menyebabkan, atau diperkirakan menyebabkan peningkatan angka kejadian cacat lahir atau kerusakan yang irreversibel (tidak bisa diperbaiki lagi). Obat-obat golongan ini mungkin juga mempunyai efek farmakologi yang merugikan.
Beberapa obat dalam kategori D adalah :
• Kaptopril (antihipertensi, gol ACE Inhibitor)
• Losartan, Valsartan (antihipertensi, gol Angiotensin II Reseptor Antagonis)
• Doksisiklin, Minosiklin, Tetrasiklin (antibiotika, gol Tetrasiklin)
• Amikasin, Gentamisin, Kanamisin, Neomisin (antibiotika, gol aminoglikosid)

Kategori X : Obat-obat yang berisiko tinggi menyebabkan kerusakan permanen pada janin. Obat-obat ini sebaiknya tidak digunakan pada kehamilan atau keadaan dimana seorang wanita diperkirakan telah hamil.
Salah satu obat dalam kategori X adalah :
• Misoprostol (Obat Maag)

Catatan :Untuk obat pada kategori B1, B2, dan B3, data penggunaan pada manusia kurang atau tidak cukup, oleh karena itu subkategori tersebut didasarkan pada data penggunaan pada hewan coba. Kategori B tidak berarti lebih aman daripada kategori C. Obat-obat pada kategori D tidak secara mutlak dikontraindikasikan pada kehamilan (misalnya, antikonvulsan).

"Tulisan ini hanya bersifat informasi, silahkan hubungi ahli kesehatan anda untuk informasi lebih lanjut"

No comments:

Post a Comment